Studi Internasional: Merokok Saat Berkendara Tingkatkan Risiko Kecelakaan
Merokok saat mengendarai kendaraan tak hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan karena gangguan konsentrasi dan kontrol pengendara, menurut studi internasional terbaru.
Kebiasaan merokok sambil berkendara â baik di atas sepeda motor maupun mobil â sering dianggap sepele oleh sebagian pengendara. Namun penelitian internasional menunjukkan bahwa perilaku ini memberikan dampak serius terhadap keselamatan di jalan raya sekaligus berpotensi menyebabkan kecelakaan yang berujung cedera.
Studi berjudul âCigarette Smoking, Road Traffic Accidents and Seat Belt Usageâ yang dilakukan oleh pakar kesehatan di Southampton, Inggris, menemukan bahwa merokok saat berkendara mengalihkan perhatian pengendara dari tugas utamanya yaitu mengemudi, sehingga risiko kecelakaan lebih besar dibanding pengendara yang tidak merokok. Dalam penelitian ini disebutkan bahwa gangguan perhatian akibat merokok dapat berlangsung sekitar 12 detik, yang setara dengan perjalanan sekitar 160 meter saat berkendara pada kecepatan 50 km/jam â jarak yang cukup untuk mengalami kecelakaan jika ada hambatan mendadak di depan.
Kebiasaan buruk ini mirip dengan gangguan lain seperti penggunaan ponsel saat berkendara, namun pada beberapa penelitian merokok justru menunjukkan dampak lebih besar terhadap konsentrasi pengemudi. Dampak lainnya adalah penurunan oksigen yang dihirup tubuh, akibat paparan karbon monoksida dari asap rokok, serta peningkatan partikel halus di udara yang dihirup di dalam kendaraan. Semua faktor ini dapat memengaruhi reaksi dan pengambilan keputusan saat kondisi darurat saat berkendara.
Selain risiko langsung terhadap pengendara, merokok saat berkendara juga membawa bahaya bagi lingkungan sekitar. Aba rokok yang dibuang sembarangan dari kendaraan yang melaju bisa memicu kebakaran di tepi jalan atau mengganggu pengguna jalan lain. Bahkan asap rokok yang terperangkap di dalam mobil dapat mengurangi visibilitas dan bahkan mengganggu sistem pernapasan penumpang, terutama pada anak-anak dan lansia.
Praktisi keselamatan berkendara di Indonesia juga menilai bahwa merokok sambil berkendara bisa memengaruhi kontrol dan keseimbangan kendaraan. Menurut Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, pengendara yang merokok saat berkendara akan menggunakan satu tangan saja untuk mengontrol kemudi, mengurangi kesiapan menghadapi situasi darurat.
Ketika konsentrasi terbagi, pengendara lebih rentan mengabaikan rambu lalu lintas, posisi kendaraan lain, maupun perubahan kondisi jalan. Hal ini sejalan dengan temuan lain yang menunjukkan bahwa perilaku berisiko â termasuk merokok sambil mengemudi â turut berkontribusi pada kecelakaan lalu lintas, terutama pada kelompok pengendara muda.
Karena itu, pakar keselamatan jalan dan regulasi berlalu lintas menganjurkan agar pengendara tidak merokok saat berkendara, mengingat gangguan tersebut bukan hanya membahayakan diri sendiri tetapi juga pengguna jalan lain. Beberapa aturan di berbagai negara bahkan menganggap perbuatan ini sebagai bentuk distracted driving yang bisa dikenai sanksi jika menyebabkan kecelakaan.
Dengan memahami bahwa merokok saat berkendara bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi juga faktor risiko nyata dalam kecelakaan lalu lintas, diharapkan pengendara lebih disiplin menjaga konsentrasi dan keselamatan di jalan.





